Pikirannya mungkin terlalu berat. Beban yang ditanggungnya juga mungkin tak sedikit. Ada keluarga yang sedang berusaha ia banggakan. Mungkin terlambat untuk menyadari bahwa keluarga dan masa depannya adalah yang utama. Setiap ia bertemu denganku, ia akan memelukku sangat erat dan lama. Mulanya, aku merasa tenang untuk setiap pelukan yang ia berikan. Lambat laun aku menyadari dari setiap hembusan nafas yang ia keluarkan kala aku memeluknya. Ku harap setiap detik yang berlalu dalam dekapan itu meringankan segala sesuatu yang menjadi bebannya. Seringkali aku memikirkan betapa menyedihkannya aku, menjadi tempatnya berlari kala ia penat dan lelah dengan keadaannya. Namun, mungkin baginya aku adalah rumah ternyaman, tempat dimana ia bisa merasa tenang walau hanya sesaat. Ikhlas tanpa berharap lagi-lagi harus kulakukan. Membantunya memikul beban sambil memikul bebanku sendiri. Memeluk dan menepuk pundaknya sambil mengubur perasaanku. Biar kubuat bahagiaku setelah ia mendapatkan bah...