Pilihan yang dibuat dengan terburu-buru terkadang membuat kita menyesali pilihan tersebut. Aku memutuskan sesuatu ketika sedang dalam masalah, cenderung lari untuk menyelesaikan masalah adalah hal yang sering ku lakukan. Menurutku pergi merupakan jalan terbaik karena dengan pergi semuanya akan berakhir. Nyatanya tidak begitu. Pergi tak membuat hatiku lebih baik, malah semakin terluka. Aku semakin tidak karuan, semakin sakit dan merasa selalu gelisah.
Kali ini aku pergi karena ingin mengakhiri hubunganku dengan kekasihku. Aku tidak dapat melanjutkan hubungan kami yang sudah berjalan 18 bulan ini. Tak mudah baginya untuk menerima semua alasanku karena apapun penjelasan yang aku sampaikan hanya akan menjadi sebuah alasan demi alasan yang terdengar menyebalkan untuknya. Ku katakan bahwa aku akan pergi melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, dia bilang dia akan menunggu. Ku katakan bahwa kemungkinan aku tak akan kembali ke Bali, dia tidak menjawab. Aku muak dengan sikapnya yang tidak pernah memberiku kejelasan tentang masa depan kami, soal pekerjaan juga soal menikah. Dia tidak muda lagi untuk menunda dan menunda. Ku pikir akan lebih baik jika aku mengejar cita-citaku untuk melanjutkan pendidikan dan memantapkan karirku, karena itu aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku dan pergi keluar kota.
Pergi selalu terdengar memilukan. Baik meninggalkan dan ditinggalkan, kepergian sama-sama memberikan luka. Kata Raditya Dika, pindah rumah tidak hanya menyiapkan barang tapi juga menyiapkan hati untuk dipindahkan. Aku pun merasakannya. Sebelumnya, setelah lulus SMA aku menyiapkan hati untuk pergi ke Yogyakarta, setelah aku nyaman, aku harus menyiapkan hati lagi untuk pergi dari Yogyakarta. Kini setelah aku nyaman, aku memutuskan untuk pergi lagi ke Yogyakarta. Rumit bukan? Ya. Aku memperumit segalanya. Seharusnya cukup akhiri hubungannya saja, tidak perlu pergi.
Semuanya telah berlalu, tak ada yang bisa ku lakukan untuk memperbaikinya, segala yang terjadi sudah terjadi. Kini lanjutkan saja semuanya tanpa perlu menoleh ke belakang. Segala keputusan memang selalu diikuti konsekuensi. Baik atau buruknya konsekuensi tergantung sudut pandang kita sendiri. Ku anggap ini tantangan yang ku buat untuk diriku sendiri, untuk keluar dari zona nyaman dan berusaha mencari yang terbaik untuk hidupku. Menyesal itu pasti, tapi jangan berhenti dan diam dalam penyeselasan. Waktu tak akan berhenti dan menunggumu hingga penyeselan itu berakhir.
Komentar
Posting Komentar