Jika kita bahas tentang perjuangan entah siapa yg berjuang untuk siapa atau apa yang telah kita perjuangkan, itu tidak akan pernah membawa keuntungan dan perubahan apapun melainkan hanya kecewa dan kecewa yang semakin lama akan semakin besar. Namun bukan berarti kita harus diam terhadap apa yang sudah di perjuangkan selama ini yang kemudian seketika menjadi tidak berarti. Jangan, jangan diamkan itu. Dia yang tidak menghargaimu harus tau apa yang sudah kamu korbankan kamu berikan untuk dia.
Bukan, sekali lagi bukan karena ingin pamrih terhadap apa yang sudah diberikan selama ini. Banyak yang bilang itu pamrih. Tapi buat saya itu adalah cara agar dia tau dia mengerti dia bisa berpikir kembali bahwa selama ini saya berusaha bukan hanya untuk diri saya sendiri melainkan untuk kita. Pasti banyak yang sudah diberikan entah dalam bentuk materi, rasa, fisik, atau apa saja yang kita miliki. Kadang kita terlalu asik membahagiakan dia yang kita anggap berarti hingga lupa membahagiakan diri sendiri. Itu tidak salah, itu salah satu cara untuk menghargainya, itu salah satu cara menunjukkan bahwa dia layak mendapatkan itu.
Setiap orang punya caranya sendiri dalam memperjuangkan apa yang ingin mereka perjuangkan. Saya pun pernah memberikan segala yang saya miliki dalam hidup saya tanpa menghiraukan siapa pun dan apa pun, saya pernah. Karena saya merasa dia teramat berarti dalam hidup saya hingga saya sering merasa tidak mampu jika tidak ada dia. Tapi saya lupa, lupa bahwa saya juga punya sesuatu yang tidak bisa saya paksakan. Adalah rasa. Saya bisa memaksakan diri saya semaksimal mungkin. Tapi saya tidak bisa memaksakan dia semau apa yang saya mau. Jika saya saya bisa ubah, tapi jika dia ? Saya tidak bisa paksakan. Saya pernah dipaksa, saya pernah di tuntut melakukan apa yang saya tidak mau. Dan saya tidak mau paksakan itu pada dia. Hingga suatu saat saya sadar. Kita bukanlah jalan yang sama lagi Tujuan kita telah berbeda. Tujuan saya adalah dia tapi tujuannya bukanlah saya. Saya harus berhenti. Perjuangan saya tak ada artinya selama ini bagi dia Iya saya menangis dalam hati saya yang paling dalam. Saya menangis di hati saya ketika saya berada dalam keramaian dengan senyum lebar saya dengan teriakan kegilaan saya.
Memperjuangkannya selama ini bagi saya kini adalah pengalaman yang sangat berarti agar jangan memperjuangkan seseorang terlalu keras. Berjuang sekuat kuatnya lah untuk dirimu sendiri untuk apa yang kamu yakini. Bukan untuk seseorang yang kamu tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya.
Saya kecewa. Iya sungguh kecewa. Segalanya tak berarti. Sangat tak berarti. Tapi saya bersyukur. Itu pentunjuk, bahwa dia memang tidak layak untuk saya perjuangkan lebih jauh. Egois iya. Saya ingin di hargai. Karma itu ada. Saya percaya dan selalu percaya. Saya pernah merasakan karma baik begitupun karma buruk. Apa yang saya lakukan untuk orang lain juga akan kembali kepada saya lagi.
Tenanglah, tidak ada yang sia-sia. Semua yang terjadi di hidup ini adalah pembelajaran yang akan mengubahmu menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Percayalah pada diri sendiri bahwa kita bisa jika kita percaya. Percaya dulu saja.
. . .
Jadi bangkitlah berjuanglah dan bahagiakan diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya untuk orang lain.
Bukan, sekali lagi bukan karena ingin pamrih terhadap apa yang sudah diberikan selama ini. Banyak yang bilang itu pamrih. Tapi buat saya itu adalah cara agar dia tau dia mengerti dia bisa berpikir kembali bahwa selama ini saya berusaha bukan hanya untuk diri saya sendiri melainkan untuk kita. Pasti banyak yang sudah diberikan entah dalam bentuk materi, rasa, fisik, atau apa saja yang kita miliki. Kadang kita terlalu asik membahagiakan dia yang kita anggap berarti hingga lupa membahagiakan diri sendiri. Itu tidak salah, itu salah satu cara untuk menghargainya, itu salah satu cara menunjukkan bahwa dia layak mendapatkan itu.
Setiap orang punya caranya sendiri dalam memperjuangkan apa yang ingin mereka perjuangkan. Saya pun pernah memberikan segala yang saya miliki dalam hidup saya tanpa menghiraukan siapa pun dan apa pun, saya pernah. Karena saya merasa dia teramat berarti dalam hidup saya hingga saya sering merasa tidak mampu jika tidak ada dia. Tapi saya lupa, lupa bahwa saya juga punya sesuatu yang tidak bisa saya paksakan. Adalah rasa. Saya bisa memaksakan diri saya semaksimal mungkin. Tapi saya tidak bisa memaksakan dia semau apa yang saya mau. Jika saya saya bisa ubah, tapi jika dia ? Saya tidak bisa paksakan. Saya pernah dipaksa, saya pernah di tuntut melakukan apa yang saya tidak mau. Dan saya tidak mau paksakan itu pada dia. Hingga suatu saat saya sadar. Kita bukanlah jalan yang sama lagi Tujuan kita telah berbeda. Tujuan saya adalah dia tapi tujuannya bukanlah saya. Saya harus berhenti. Perjuangan saya tak ada artinya selama ini bagi dia Iya saya menangis dalam hati saya yang paling dalam. Saya menangis di hati saya ketika saya berada dalam keramaian dengan senyum lebar saya dengan teriakan kegilaan saya.
Memperjuangkannya selama ini bagi saya kini adalah pengalaman yang sangat berarti agar jangan memperjuangkan seseorang terlalu keras. Berjuang sekuat kuatnya lah untuk dirimu sendiri untuk apa yang kamu yakini. Bukan untuk seseorang yang kamu tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya.
Saya kecewa. Iya sungguh kecewa. Segalanya tak berarti. Sangat tak berarti. Tapi saya bersyukur. Itu pentunjuk, bahwa dia memang tidak layak untuk saya perjuangkan lebih jauh. Egois iya. Saya ingin di hargai. Karma itu ada. Saya percaya dan selalu percaya. Saya pernah merasakan karma baik begitupun karma buruk. Apa yang saya lakukan untuk orang lain juga akan kembali kepada saya lagi.
Tenanglah, tidak ada yang sia-sia. Semua yang terjadi di hidup ini adalah pembelajaran yang akan mengubahmu menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Percayalah pada diri sendiri bahwa kita bisa jika kita percaya. Percaya dulu saja.
. . .
Jadi bangkitlah berjuanglah dan bahagiakan diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya untuk orang lain.
Komentar
Posting Komentar