Pagi ini aku terbangun dengan sosokmu yang masih melintasi ruang pikiran. Teringat betapa sering aku mengabaikan rasa yang sebeneranya tak pernah benar-benar pergi. Aku ingat hari pertama kau mengirim pesan. Aku ingat hari dimana kita berdoa bersama. Aku ingat saat berteduh di emperan ruko saat hujan. Aku ingat malam-malam kita berkeliling menikmati indahnya Yogyakarta. Aku ingat malam di tepi pantai saat kau bilang "nikmati saja suasananya". Aku ingat saat kita saling mengkhawatrikan satu sama lain. Aku ingat kau mulai menghilang. Aku ingat kau benar-benar pergi dan tak kembali. Aku masih tetap menunggumu kembali.
Hatiku seperti ditebas saat mengingatmu, mengingat kita serta segala kenangannya. Taukah kau ? Aku sakit. Aku tak tau cara untuk pulih. Aku tak tau cara berhenti. Aku tak tau harus mengakhirnya dengan cara apa. Jika memang semua cara yang orang katakan mudah untuk dilakukan, aku tak akan seterluka ini.
Sudahlah. Yakinku padamu yang tak akan pernah pergi adalah salah satu hikmah yang membuat aku sadar bahwa tak selamanya yang aku yakini adalah benar. Yakin hingga membuat seluruh dunia tau bahwa kau ada untukku, bahwa kau akan selalu menemaniku hingga halaman terakhir hariku di bumi ini. Aku keliru.
Biarlah lanjutan cerita ini ku jalani sendiri tanpamu. Tanpa ceritamu, tanpa candamu, tanpa kabarmu bahkan tanpa sapamu, seperti segalanya tak pernah terjadi. Meskipun kala itu kau selalu ada di setiap halaman kisah hidupku, seakan-akan buku tentangmu tak punya halaman terakhir. Aku sangat menghargai setiap waktu dan kenangan saat bersamamu. Bersamamu aku mengerti betapa Tuhan sungguh baik pernah memberiku rasa bahagia yang tak ternilai dan rasa sakit yang membuatku belajar menjadi lebih kuat.
Komentar
Posting Komentar