Perjalanan menuju rumah kali ini mengingatkanku akan sesuatu. Ringroad Barat yang ku lewati kali ini terasa sangat muram. Di tengah perjalanan aku teringat salah satu kawan terbaikku yang kerap ku panggil Abang, karena dia empat tahun lebih tua dariku. Hampir setiap hari jumat dia menungguku berkemas sejenak untuk pulang selepas kuliah sambil mengoceh kenapa tidak menyiapkan dari awal sampai dia harus menunggu. Lucu bukan, dia mengoceh tapi tetap menunggu. Orang tua memang selalu cerewet untuk masalah sepele.
Tak lama kami berangkat, dia dengan motor Verza dan helm capungnya sedangkan aku dengan motor Mio dan helm penuh stiker bola.
Yang ku ingat dia selalu ada di belakangku sampai kami berpisah di jembatan layang sekitar Gamping, dia berbelok ke arah kiri sambil berkata dengan bahasa Jawanya yang medhok, "aku dishik yo, koe ati-ati." sambil membunyikan klaksonnya dan aku masih lurus menuju jalan Wates sambil membalasnya dengan senyum dan lambaian tangan sambil berteriak, "iyo".
Malam ini aku teringat akan saat-saat itu sambil berkata dalam hati, aku merindukan saat itu, saat-saat bersama kawanku.
Aku bisa terus melewati dan mendatangi tempat yang sama, namun yang menghentakanku adalah saat aku menyadari waktunya telah berubah, garis waktunya telah berjalan jauh dan keadaannya tak lagi sama.
Komentar
Posting Komentar