Rasa nyaman merupakan pintu menuju sejuta rasa tak bernama. Kita dihadapkan pada keadaan dimana hati merasa bahagia, jantung yang sering berdebar dan wajah yang selalu tersenyum saat menatap gawai. Semuanya menjadi indah seakan-akan dunia sedang berpihak pada kita. Obrolan-obrolan yang membuat kita merasa bahwa kita sepemikiran, sepemahaman, saling mengerti juga sefrekuensi sering memabukan kita dalam sekejap. Hanya melalui sebuah obrolan, semudah itu kita merasa nyaman dengan seseorang. Jika sudah nyaman, pasti akan terus berlanjut waktu ke waktu, tahap demi tahap, secara perlahan namun pasti. Nyaman, jalani dan nikmati prosesnya. Status bukan lagi sesuatu yang prioritas.
Namun kita sering lupa, tanpa status menjadikan kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Hubungan tanpa hak juga tanpa kewajiban. Kita sadar konsekuensi jatuh cinta adalah terluka. Namun kita tak pernah sadar bahwa konsekuensi menikmati sebuah kenyamanan adalah membawa kita pada kekecewaan dan keterpurukan secara perlahan. Kita nyaman pada hubungan yang bias tanpa garis dan batasan yang jelas. Kita merasa dicintai tapi dia bukan pasangan kita. Saat salah satu memberi batasan, ada yang terluka karena berharap lebih. Rumit bukan?
Pernahkan kita berpikir bahwa terjebak dalam zona nyaman itu bukanlah hal yang baik? Kita terjebak dalam keadaan yang membuat kita tidak memikirkan tujuan lain, terjebak dalam hubungan tanpa komitmen. Pikiran yang sering menutup hati kita, "ini bukan cinta, rasaku tidaklah sedalam itu". Namun, jika dia tiba-tiba berubah atau menghilang, apa yang kita rasakan? Tetap terluka bukan? Hubungan ini membuat kita stres karena setiap hari diliputi rasa takut kehilangan. Yang menikah bisa cerai, yang pacaran bertahun-tahun bisa putus, apalagi yang hanya bermodalkan nyaman.
Akhiri hubungan yang didasari rasa nyaman tanpa kejelasan. Jika kita ingin lebih serius buatlah garis hubungan yang lebih jelas dengan batasan yang jelas pula. Bukankah menyenangkan menjalani hubungan yang jelas tanpa kata "jalani dulu aja". Jika kita tidak siap dengan itu, jangan memaksakan diri untuk berkomitmen dengan seseorang. Jangan pula memberi atau menerima kenyamanan.
Sejuta rasa yang kita alami karena sebuah rasa nyaman merupakan rangkaian rasa tak bernama. Kita tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata, kita tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Anggaplah itu sebuah pohon tak bernama dengan akar kenyamanan serta ranting-ranting perasaan, ada ranting bahagia; cinta; kasih, ada ranting luka; sedih; takut, ada pula ranting harapan. Mulailah mengeja rasa tak bernama ini satu per satu. Tata hati dan pikiran kita. Lepaskah sesuatu yang tak perlu untuk dipertahankan. Berpisah kita sakit, namun terus bersama kita lebih terluka.
mantap
BalasHapusLAKIKK
BalasHapus